Mo Jadi Project Manager ?
Pertanyaan diatas, gampang-gampang susah untuk dijawab. Teorinya sih gampang untuk menjadi seorang Project Manager harus bisa begini begitu. Prakteknya ? Kadang butuh trik-trik tambahan untuk menghasilkan project yang meets time target, meets budget, dan meets quality.
Semester kemarin ada matakuliah yang mengharuskan saya dan teman-teman "role playing" dalam suatu project management. Satu kelas dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 4 orang. Ada yang ditunjuk sebagai Project Manager, System Analyst, Business Analyst, Programmer, dan sebagainya, posisi-posisi yang berupa software professionals. Karena anggota kelompok hanya 4 orang, jika peranan yang harus "dimainkan" lebih dari 4 maka ada anggota yang merangkap jabatan.
Karena memang berupa "role playing", sering terdapat kejanggalan dan kelucuan saat kami berusaha untuk menyelesaikan project sesuai targetnya. Misalnya, terkadang demi mengejar deadline waktu, kami bertukar peran secara serabutan. Seorang Project Manager bukan berarti dia hanya me-manage kami para anak buahnya. Demi kepraktisan, tak jarang pak PM (demikian kami memanggilnya) mengerjakan editing laporan (yang seharusnya tugas Dokumentator), meng-interview user (seharusnya tugas System Analyst & Business Analyst). Orang yang telah ditunjuk sebagai System Analyst juga terkadang bertindak sebagai Programmer atau Software Implementor. Saya sendiri pernah "ditukar peran" sebagai nonnie PM :-) Demikian seterusnya.
Dalam praktek di suatu real project, hal seperti ini tidak boleh terjadi. Pertukaran peran yang tidak konsisten dan serabutan akan menimbulkan kurang sempurnanya beban tugas di tiap posisi. Terutama bagi Project Manager yang tugasnya meliputi manajemen keseluruhan project.
Menjadi Project Manager tidak hanya dapat "menyuruh" orang lain melakukan sesuatu. Lebih dari itu, seorang Project Manager harus mampu :
1. Memotivasi anak buah dalam mencapai target project.
2. Memahami karakter masing-masing bawahannya sehingga dapat "menyuruh seseorang tanpa seseorang itu merasa disuruh"
3. Mempunyai "insting" tentang "who doing what", "what if analysis about the project".
4. Memahami keinginan user, mengkomunikasikannya pada anak buah, mampu menjelaskan pada user apabila ada keterbatasan project dan implikasinya.
5. Memahami project secara keseluruhan, sampai ke detailnya, meskipun tidak harus mampu mengerjakan semua detail project.
6. Mempunyai wibawa, sehingga anggota team bisa respek terhadap project manager.
Demikianlah yang saya rasakan dari "role playing" kemarin. Mungkin tidak terlalu sesuai dengan teori "being a good project manager", tapi hal-hal di atas terasa arti pentingnya selama "role playing".
>>> Thanks pak ArKur, buat suri tauladannya :-) <<<
Posted at 03:28 pm by Nanasbonyok