Tuesday, July 12, 2005
Pendekar Kereta

Pernah lihat "Pendekar Kereta ?" Apa sih Pendekar Kereta ? Siapa lagi itu ? Tokoh animasi baru ya ?
Bukan. Pendekar Kereta yang saya sebut disini adalah orang-orang yang dengan gagah berani naik KRL Ekonomi, naik di ATAP kereta :-) Kenapa disebut Pendekar ? Karena untuk naik ke ATAP membutuhkan usaha yang tidak mudah. Harus bisa memanjat dinding gerbong kereta dengan hanya berpijak pada pijakan seadanya. Bisa bertumpu pada bingkai jendela gerbong yang sudah rusak, ada yang memilih memanjat melalui sambungan gerbong. Di bagian sambungan antar gerbong, ada bagian yang menonjol berbentuk silinder, mungkin dulunya digunakan sebagai cerobong asap. Karena sekarang kereta menggunakan tenaga listrik atau diesel, jadi cerobong itu tidak aktif dan aman sebagai tempat memanjat.
Pagi tadi, seperti pagi-pagi biasanya, saya menunggu di peron KRL express (yang ini ber-AC dan tidak sepenuh KRL ekonomi). Tapi karena kereta express agak siang datangnya, jalur relnya ditempati oleh KRL ekonomi dulu. Disitulah saya melihat perjuangan orang-orang yang, entah karena tidak kebagian tempat di dalam gerbong, atau karena tidak mau bayar karcis. (Gerbong KRL ekonomi selalu penuh sesak berdempetan, dan sering ada pemeriksaan karcis, jika kedapatan tidak menunjukkan karcis bertanggal hari itu, terkena denda).

>>> Bersyukur karena masih bisa duduk nyaman di kereta express ber-AC <<<

Posted at 09:23 am by Nanasbonyok
Make a comment  

Monday, July 11, 2005
Mo Jadi Project Manager ?

Pertanyaan diatas, gampang-gampang susah untuk dijawab. Teorinya sih gampang untuk menjadi seorang Project Manager harus bisa begini begitu. Prakteknya ? Kadang butuh trik-trik tambahan untuk menghasilkan project yang meets time target, meets budget, dan meets quality.
Semester kemarin ada matakuliah yang mengharuskan saya dan teman-teman "role playing" dalam suatu project management. Satu kelas dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 4 orang. Ada yang ditunjuk sebagai Project Manager, System Analyst, Business Analyst, Programmer, dan sebagainya, posisi-posisi yang berupa software professionals. Karena anggota kelompok hanya 4 orang, jika peranan yang harus "dimainkan" lebih dari 4 maka ada anggota yang merangkap jabatan.

Karena memang berupa "role playing", sering terdapat kejanggalan dan kelucuan saat kami berusaha untuk menyelesaikan project sesuai targetnya. Misalnya, terkadang demi mengejar deadline waktu, kami bertukar peran secara serabutan. Seorang Project Manager bukan berarti dia hanya me-manage kami para anak buahnya. Demi kepraktisan, tak jarang pak PM (demikian kami memanggilnya) mengerjakan editing laporan (yang seharusnya tugas Dokumentator), meng-interview user (seharusnya tugas System Analyst & Business Analyst). Orang yang telah ditunjuk sebagai System Analyst juga terkadang bertindak sebagai Programmer atau Software Implementor. Saya sendiri pernah "ditukar peran" sebagai nonnie PM :-) Demikian seterusnya.

Dalam praktek di suatu real project, hal seperti ini tidak boleh terjadi. Pertukaran peran yang tidak konsisten dan serabutan akan menimbulkan kurang sempurnanya beban tugas di tiap posisi. Terutama bagi Project Manager yang tugasnya meliputi manajemen keseluruhan project.

Menjadi Project Manager tidak hanya dapat "menyuruh" orang lain melakukan sesuatu. Lebih dari itu, seorang Project Manager harus mampu :
1. Memotivasi anak buah dalam mencapai target project.
2. Memahami karakter masing-masing bawahannya sehingga dapat "menyuruh seseorang tanpa seseorang itu merasa disuruh"
3. Mempunyai "insting" tentang "who doing what", "what if analysis about the project".
4. Memahami keinginan user, mengkomunikasikannya pada anak buah, mampu menjelaskan pada user apabila ada keterbatasan project dan implikasinya.
5. Memahami project secara keseluruhan, sampai ke detailnya, meskipun tidak harus mampu mengerjakan semua detail project.
6. Mempunyai wibawa, sehingga anggota team bisa respek terhadap project manager.
Demikianlah yang saya rasakan dari "role playing" kemarin. Mungkin tidak terlalu sesuai dengan teori "being a good project manager", tapi hal-hal di atas terasa arti pentingnya selama "role playing".

>>> Thanks pak ArKur, buat suri tauladannya :-) <<<

Posted at 03:28 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Over-Booked in the end of August

Fuihh... baru bulan Juli, schedule buat bulan Agustus akhir udah over-booked. Mulai dari deadline bayar kuliah tinggal-gesek (19 Agt), Yukon Expert Gym (19,22,23 Agt), deadline registrasi kuliah (26 Agt) ke Depok boo... Hikz, kalo perginya ga bisa bareng sama pak calon Mentri Keuangan kan repot :D Ntar ah bujukin pak calon Mentri, biar brangkatnya diundur, mepet deadline. Masih ada lagi peluang buat ikutan projectnya SuperKiki :-) I do hope. Kuliah mulai awal September. Kenapa seh kalo lagi nganggur, hibernate beneran, tapi sekalinya ada job, langsung bejibun numpuk2.

>>> Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang, jangan ditunda <<<
( basi but true )

Posted at 02:52 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Wednesday, June 29, 2005
Cerita KuraKura, Landak, dan Angsa

Pada suatu ketika, di pinggir sungai yang airnya jernih, hidup seekor kura-kura hijau bernama KuraKura. KuraKura tinggal di dasar sungai, hanya sesekali saja dia berjemur di tepi sungai. Biasanya di pagi hari, saat matahari belum terlalu terik, KuraKura akan naik berjemur, setelah panas mulai menyengat tempurungnya, dia akan berendam lagi menuju rumahnya.

Suatu hari, saat KuraKura sedang berjemur, dia mendengar suara seekor landak yang sedang mengajarkan cara menembakkan duri di depan teman-temannya. Awalnya KuraKura tidak terlalu memperhatikan, "Ah hanya seekor landak biasa, tidak menarik." Si Landak terus berbicara, tak mempedulikan kehadiran KuraKura. Tak terasa, KuraKura mulai mendengarkan isi pidato Landak. "Oh, ternyata Landak ini cukup pintar juga", begitu kata KuraKura dalam hati. Sambil lalu pandangannya mulai beralih ke wajah Landak. "Eh, kalo diperhatikan, Landak ini manis juga lho", gumam KuraKura. Akhirnya KuraKura dengan cermat mendengarkan setiap kata Landak. Dan mulai mengagumi kepandaian Landak. Wah, ngga nyangka, di balik barisan duri itu tersimpan otak yang encer. Tak lama kemudian acara pidato Landak itupun berakhir, dan semua pendengarnya kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sebelum KuraKura sempat menyapa dan berkenalan dengan Landak, si Landak telah bergegas pergi, meninggalkan bayangan durinya di sepanjang tepian sungai. Tahu sendiri kan, KuraKura tak bisa berlari secepat Landak ?

Lama berselang, KuraKura tak pernah bertemu Landak lagi. Hingga pada suatu hari, saat KuraKura sedang berlindung di bawah daun-daun teratai yang memenuhi permukaan sungai, KuraKura melihat Landak melintasi pinggiran sungai. Dengan suara lirih dan terkesan ragu-ragu, KuraKura memanggil Landak. Landak merasa ada yang memanggil namanya, lalu menghentikan langkahnya. Landak melihat ke sekelilingnya, melongok ke dalam air, tapi KuraKura yang berada di balik dedaunan tak dapat dilihatnya. Meski demikian, Landak mau mengobrol dengan KuraKura. KuraKura terlalu malu untuk menampakkan dirinya. Pembicaraan berlangsung lancar diselingi senda gurau. Ketika senja menjelang, Landak pun pulang ke rumahnya. Demikian berlangsung selama beberapa lama.

Hingga suatu ketika, Landak berkata, "Kura, kenapa sih kamu ngga mau keluar dari air. Di sini enak lho, hangat. Aku kan ngga bisa masuk ke air. Kamu aja yang ke daratan." KuraKura agak keberatan dengan permintaan Landak ini, "Aku ngga tahan panas, nanti tubuhku mengering."
Landak manggut-manggut tanda mengerti, "Kalo gitu di atas batu di tengah sungai itu saja, aku ngga kena air, kamu gampang kalo mau masuk ke air, setuju ngga ?" KuraKura pun mengangguk setuju.

KuraKura dan Landak pun bertemu di atas batu kali, bercanda ria seperti biasa. Sampai tiba-tiba, Landak berkata, "Kamu ngga pengen jadi angsa ? Pasti kamu cantik deh kalo jadi angsa. Kamu juga akan bisa berlari cepat mengejarku". KuraKura tertegun, bingung mau jawab apa. KuraKura memang mengagumi Landak, tapi memenuhi permintaan Landak itu tak semudah yang diucapkan. Landak masih berbicara dengan penuh semangat, tapi KuraKura sudah tak mampu mencerna semua kata-kata Landak. Yang bisa dilakukannya hanya pura-pura mengerti dan tersenyum. Sejak saat itu, Landak tak pernah datang ke pinggir sungai lagi. Tak juga menunggu KuraKura di batu tempat mereka biasa bertemu. KuraKura sempat tercenung beberapa lama.

Dengan usaha keras, dibarengi latihan lompat batu tiap hari (duh kayak tradisi Nias aja neh), si KuraKura lamban akhirnya berubah menjadi seekor angsa yang cantik, gesit, ramping kakinya. Namanya pun berganti menjadi KurAngsa. Setiap hari KurAngsa berkaca, mematut diri melihat bayangannya di permukaan air sungai. "Betapa cantiknya aku...", begitu gumam KurAngsa dalam hati.

Dari kejauhan tampak bayangan mendekat. Ternyata si Landak yang telah lama tak bersua. Namun KurAngsa pura-pura tidak mengenalnya. "Aku kan sekarang sudah cantik, buat apa berteman dengan Landak penuh duri, huh, bisa-bisa nanti durinya menusuk bulu-bulu lembutku", demikian kata KurAngsa. Landak menyapa dengan agak ragu, "Benarkah kamu KuraKura ?" KurAngsa menjawab dengan ketus, "Heh, siapa kamu, enak aja, namaku KurAngsa. Siapa itu KuraKura ?"
Landak tercengang, tak mampu berkata-kata lagi. Wajah Landak menunjukkan keheranan yang sangat. "Kok KuraKura tak mengenaliku lagi ?" KurAngsa tak peduli, dan meninggalkan Landak yang masih tertegun.


>>> Apa yang kita sangka akan menjadi perubahan baik bagi orang lain, belum tentu akan menghasilkan perubahan sesuai kemauan kita. Jadi, terimalah apa adanya, tidak lebih, tidak kurang. <<<

Posted at 04:52 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Tuesday, June 21, 2005
Pentingkah Software Quality ?

Dari artikel dan jurnal yang saya baca, penting untuk memberikan justifikasi apakah suatu produk software yang dihasilkan oleh perusahaan pengembang software itu sudah berkualitas atau belum. Kriteria "berkualitas" disini tidak hanya dinilai dari sudut pandang perusahaan pembuatnya saja. Tetapi juga harus memperhatikan kepuasan user.
Parameter-parameter pengukuran kualitas software cukup banyak, dan semua parameter itu seyogyanya diukur semuanya, sebagai bahan referensi, makin banyak makin baik, makin valid hasil pengukurannya.
Parameter-parameter tersebut, antara lain adalah :
1. Jumlah error LOC (Line Of Code).
2. User acceptance dan customer satisfaction.
3. Fungsionalitas software yang dihasilkan.
4. Kemudahan pengembangan produk software yang telah ada.
Masih banyak lagi yang lainnya, tapi untuk sementara, sebagai gambaran, saya akan membahas 4 parameter diatas sebagai sebagian penentu kualitas software.

Jumlah error LOC, artinya adalah berapa jumlah baris pada code program yang dinilai sebagai kesalahan program. Tentunya yang mengetahui adanya kesalahan LOC ini dari pihak produsen software. Sumbernya bisa dari komplain user tentang software yang tidak sesuai keinginan mereka, kemudian setelah di-cek ke code programnya ternyata memang terjadi kesalahan coding.

Saat program diujicobakan untuk digunakan oleh user, sebisa mungkin dimaksimalkan tingkat acceptance dari user, sebisa mungkin diusahakan agar user merasa nyaman menggunakan software tersebut. Tentu saja dengan tidak mengabaikan kebutuhan user. Meskipun terkadang, terdapat kasus dimana user kurang bisa dengan spesifik mendefinisikan kebutuhannya, sehingga pada saat software-nya sudah jadi, diujicobakan, ternyata berbeda dengan persepsi user mengenai software yang diinginkan.

Fungsionalitas, berkaitan dengan kebutuhan user, dan definisi user tentang kebutuhan mereka. Apabila telah ada kesamaan persepsi antara kebutuhan user dengan apa yang didefinisikan dan ditangkap oleh pihak pengembang, hampir bisa dipastikan (90%) fungsionalitas software akan sesuai dengan keinginan dan mendekati bentuk yang dibayangkan oleh user. Kemungkinan perubahan biasanya hanya pada desain layoutnya saja.

Code program yang dihasilkan, harus ditulis dengan struktur yang rapi sehingga mudah dibaca oleh programmer seandainya di kemudian hari harus dilakukan modifikasi program.

Jika penilaian software yang dihasilkan sudah masuk kategori "berkualitas", dua pihak sama-sama diuntungkan. User mendapatkan software yang berkualitas dan sesuai kebutuhannya. Sedangkan pengembang software mendapatkan reliabilitas sebagai produsen software berkualitas.

Sama-sama untung kan.....jadi...mari mulai memperhatikan kualitas software yang kita hasilkan.

Posted at 04:52 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Friday, June 10, 2005
Presentasinya Gagal :-(

06 Juni 2005 --> mimpi buruk jadi kenyataan
Baru update blog sekarang neh :-( Masih shock gara-gara presentasi case study SDLC "dibantai" habis-habisan ama dosennya..hiks..hiks...
Mungkin memang salah pilih case study-nya. Case study yang aku ambil tentang data warehousing dan business intelligence application. Si dosen kayaknya lebih mengacu pada database OLTP dan aplikasi transaksional. Huahuahua..kenapa juga engga ditolak dari awal saat kita (kelompok kerja-ku) mengajukan proposal ? Selama 3 kali progress report dwi-mingguan juga ngga disuruh ganti topik.

"DFD context dan level 1-nya aja bikin bingung gitu, gimana mo baca DFD level 2-nya, mana ruwet lagi level 2-nya."
Tiba-tiba si dosen ngulik masalah DFD-ku (ggrrrrr....) Padahal kelompok lainnya yang giliran presentasinya sebelum kelompokku, engga dikomentarin apa-apa, apalagi sampai masalah DFD.
Lho...gimana seh..katanya disuruh breakdown sampai ke detailnya, lha ini digambarkan detailnya kok bilang ruwet.

"Jangan terlalu teknis, dari sisi analisanya harus kuat dong."
Lhaaa ??? Dulu katanya (si dosen saat memberi petunjuk tentang tugas) proposal itu harus berisi fakta, perbandingan, data, dsb. secara teknis dan ilmiah. Analisa harus dikuatkan dengan bukti-bukti teknis serta fakta. Kalau memang faktanya begitu adanya, dan prosesnya memang seperti itu, apa harus ditutup-tutupi untuk alasan 'biar ngga terlalu teknis'.

Solution
Ya sudahlah, cokelat dah jadi keju (emang bisa gituh ?). Sekarang yang penting "menyelamatkan" nilai teman-teman sekelompokku, kasihan mereka, hampir jadi "korban" gara-gara case study yang aku usulkan. Ngga ada yang salah dengan case study, hanya mungkin si dosen belum mendapatkan 'big idea' dari case study yang aku ambil ini.
Weekend besok...diisi dengan finishing (tepatnya perombakan total) proposal case study ini.

Moral story
Lain kali, ambil case study yang semirip mungkin dengan yang ada di textbook, dan bertanya dengan agresif apakah case study-nya sudah sesuai keinginan dosen atau belum, dan HARUS di awal pembuatan tugas. Kalau perlu, minta sheet of approval dari si dosen, hitam di atas putih, bahwa beliau menyetujui dan tidak akan memprotes di kemudian hari.

Tunggu posting selanjutnya ya...udah recovering dari shock-nya kok. Sekarang mo kuliah dulu... taa..taa...

Posted at 08:37 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Wednesday, June 01, 2005
Respon pak Budi

Hik hik...ternyata beliau sudah merespon, tapi kenapa ya emailnya baru ketemu hari ini ?
Jadi pengen malu deh :-)

Email yang sempat "hilang" :

----- Original Message -----
Sent: Thursday, May 26, 2005 6:46 PM
Subject: Re: Tanya Data & Dimensional Modelling


Data modeling dalam sistem data warehousing sangat sederhana karena skema datanya flat (datar). Data modeling justru diperlukan untuk melakukan analisis terhadap data yang ada dalam perusahaan (OLTP).
Skema data bisa digambarkan dengan ERD juga, tidak ada perbedaan teknik.
Metodologi pada datawarehousing lebih berat pada penentuan data apa yang perlu disimpan dan disajikan berdasarkan kebutuhan user. Saya tidak ingat ada web site khusus yang membahas SDLC dalam data warehousing. Kalau nanti ketemu saya beri tahu.
Kuncinya adalah memetakan kebutuhan informasi (dalam rangka mengambil keputusan) ke dalam model-model data yang ada di OLTP, kemudian menggabungkannya dalam skema bintang.

Saya kira pendekatan yang anda ambil cukup tepat.
Memang business intelligence adalah alat bantu untuk mengoptimasi OLTP, atau proses bisnis manual yang ada.
Tetapi datawarehousing itu baru setengah dari BPI.
Sebaliknya BPI bisa jalan tanpa data warehousing.
Nggak apa, jalan terus saja.

-Budi


Email respon kedua :

----- Original Message -----
Sent: Tuesday, May 31, 2005 2:07 PM
Subject: RE: Tanya Data & Dimensional Modelling

Saya sudah balas email dua minggu lalu.
 
Sebetulnya BPI itu banyak tahapannya, termasuk tahapan business
process measurement dimana data warehouse banyak berperan.
Terutama untuk proses bisnis yang sudah efisien dan akan lebih
dioptimalkan lagi. Otomasi biasanya masuk dalam kategori business
process reengineering (BPR).
 
Tidak banyak metodologi pengembangan model data dimensional,
karena memang tidak sekompleks model data OLTP.
Pemodelan datanya dimana-mana sama, pakai ER Diagram
dan relational schema. Cuman skema yang dipakai tidak jauh
dari star schema (dan variasinya).
Tantangan dalam dimensional modeling adalah memetakan
model data OLTP yang ada (dengan ERD) kemudian menganalisa
dan memilih serta mengkonversikan ke skema data dimensional.
 
Dalam kaitannya dengan BPI - kunci metodologinya terletak
bagaimana menentukan ukuran/metrics dalam fact table dengan
menganalisa model proses bisnisnya (atau datanya).
 
Good luck!
-Budi

Posted at 01:07 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Tuesday, May 31, 2005
Implementing SDLC methodologies

Why we are bother implementing the SDLC methodologies ? It costs time, energy, money, and of course brain memory ;-)
Any SDLC methodology has its own steps, but all of them make sure that every step has been done accurately. (OMG... very tired doing all of them)
Last time i thought that we don't have to make a "blue print" of all the system we will built. But i do agree that documentation is an important thing. Coz documentation can make us easier to track-back to our system. But making blue-prints ???

Many textbooks said that we can predict the system will be succeeded or not, from its blue-print, before the system has been built.
(psstt... I still sceptic on this statement.. I feel that making plans, analysis, designs is a boring activity)

Maybe it caused by my lack of skill on programming. When designing an information system, you must have very good understanding on any programming language, algorithms, program flows, etc.

Hope someday I will be used to make the blueprint-proposal....before I screwed up the system.. LOL

Posted at 08:37 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Datawarehouse's Architectural Plan

Components needed to drive an architectural plan of a datawarehouse design are mentioned in requirements definition as below :

Source Data
  • Operational source systems
  • Computing platforms, operating systems, databases, files
  • Departmental data : files, documents, spreadsheets
  • External data sources

Data Staging

  • Data mapping between data sources and staging area data structures
  • Data transformations
  • Data cleansing
  • Data integration

Data Storage

  • Size of extracted and integrated data
  • DBMS features
  • Growth potential
  • Centralized or distributed

Information Delivery

  • Types and number of users
  • Types of queries & reports
  • Classes of analysis
  • Front-end DSS applications

Metadata

  • Operational metadata
  • ETL
  • End-user metadata
  • Metadata storage

Management and Control

  • Data loading
  • External sources
  • Alert systems
  • End-user information delivery

Posted at 02:41 pm by Nanasbonyok
Make a comment  

Monday, May 30, 2005
Notasi dimensional model & denormalisasi

Akhirnya..... penting neh buat reference ...aaarrgghhhh....

----- Original Message -----
From: djoni
 
harap bersabar tunggu posting yang saya janjikan, harus cari
yang pas.

1. Kalau yang dimaksud adalah notasi data model dalam bentuk diagram,maka kotak (notasi untuk table) berisi daftar nama column (didalam relational database, yang benar adalah column, tidak ada field) yang terhubung satu dengan yang lain dengan garis biasa (diujungnya tidak ada simbol apapun, misalnya crowsfoot) adalah "notasi khas" untuk dimensional data warehouse.
Alasannya, khususnya untuk star, hanya ada satu macam hubungan, yaitu antara dimension dengan fact-nya yang selalu one-to-many, maka cukup garis saja.
Untuk snowflake, tergantung jenisnya, tetapi hampir selalu juga one-to-many dari outer ke inner dimension (outer adalah yang jauh dari fact table).
Kalau bikin diagramnya pakai data modeling tool, maka gunakan saja one-to-many relationship.  IMHO, cukup diatas kerta, atau paling-paling Visio, daripada beli/belajar tool, karena dimensional data model sangat sederhana.  Di bisnis cukup besar, setingkat Telkom misalnya, jumlah dimension table max 20 - 25.  Kalau lebih dari itu, modelnya kemungkinan ada kesalahan.  Fact table biasanya lebih sedikit.  Dan, sekali lagi, relationship hanya ada satu macam, tidak seperti ERD (normalized data model) yang hampir selalu seperti benang ruwet atau sarang laba-laba tau bakmi italia.

2. Kalau yang dimaksud adalah denormalisasi dari data source ke dimensional data warehouse, maka jawabannya: tidak (belum) ada standard.  Source to target matrix, yang akan saya postingkan contohnya merupakan salah satu cara (dikantor saya pakai MS Excel sheet untuk mendokumentasikannya) untuk mendefinisikan data flow termasuk transformasi yang terjadi dalam perjalanan data dari sumber hingga masuk ke data warehouse.  Denormalisasi adalah salah satu jenis transformasi.

Kalau sedang punya kasus, bisa kita pakai untuk contoh.  Saya tunggu.
djoni

Posted at 02:31 pm by Nanasbonyok
Make a comment  


Next Page




Hope you can find a few knowledges here
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

Please visit my other blog : SDLC

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed